Sabtu, September 21"Satyam Vada, Dharmam Chara" - Taittiriya Upanishad

KEUNIKAN YANG PATUT DIBANGGAKAN – Kontribusi Hindu bagi Masyarakat Dunia-Anand Krishna

Om
|| Bhurbhuvah svaha, Tat-savitur-varenyam,
Bhargo devasya dhimahi, dhiyo yo nah prachodayaat ||
Om Shaanti, Shaanti, Shaantih

Dalam Artikel sebelumnya kita mengakhiri pertemuan kita dengan sebuah pernyataan, a testimony of faith, bahwa seorang Hindu yang percaya pada keunikan dirinya, pada ke-Hindu-annya, tidak bisa tidak percaya diri – sebab itu, ia tidak perlu bersaing.

Barangkali Anda pernah mendengar atau membaca: Selama Pepsi Cola berusaha mati-matian untuk menyaingi Coca Cola – yang diraihnya hanyalah kegagalan demi kegagalan. Ada yang mengritik rasanya terlalu manis, ada yang mengritisi kadar sodanya, bahkan ada yang menolak bentuk botolnya, kemasannya.

Semuanya itu terjadi karena ketidakpercayaan-diri Pepsi Cola sendiri, yang memang menjadikan Coca Cola sebagai tolok ukurnya, standarnya. Maka, konsumennya pun menggunakan tolok ukur yang sama, standar yang sama.

Namun, begitu mereka berani muncul sebagai Pepsi dan bukan sebagai penyaing Coca Cola – maka mereka berhasil mendapatkan segmen pasar yang cukup signifikan. Bahkan, mereka mampu menciptakan segmen pasar tersendiri, yaitu para muda-mudi yang sebelumnya tidak begitu tertarik dengan Coca Cola – mereka yang memang suka dengan rasa manis.

Mari kita renungkan apa saja yang menjadi keunikan Hindu…  Pertama-tama adalah Mantra Gaayatri: Om Bhurbhuvah svaha…. Dalam terjemahan bebas, sebagaimana sering dilagukan di Anand Ashram:

“Engkaulah Penguasa Tiga Alam,
Cahaya-Mu Menerangi Jagad Raya,
Terangilah Pikiran serta Jiwaku,
O Tuhan Tingkatkalh Kesadaranku.” 

Ketika seorang anak berusia 5-6 tahun dan saatnya ia meraih pendidikan formil di sekolah, maka ia dibekali dengan mantra ini. Mantra bukanlah doa atau bacaan biasa, mantra adalah maanasa yantra, alat untuk mengendalikan pikiran dan perasaan.

Bayangkan! Seorang anak seusia itu sudah diajarkan untuk mengendalikan pikiran serta perasaannya, dan memohon pencerahan dari Hyang Maha Cerah dan Mencerahkan. Ia tidak diajarkan untuk meminta sesuatu berupa materi, bukan rejeki, bukan sesuap atau dua suap nasi – tetapi Pencerahan!

“Terangilah pikiranku… tingkatkanlah kesadaranku” supaya aku dapat menentukan apa yang mesti kulakukan, dan apa yang mesti kuhindari. Supaya aku tahu apa yang baik dan apa yang tidak baik. Inilah keunikan pertama, inilah bekal awal yang diberikan kepada seorang anak oleh orangtuanya yang ber-dharma Hindu. Ya, ber-dharma Hindu, bukan sekedar ber-KTP Hindu.

Apa arti Dharma? Apa pula yang menjadi tuntutan Dharma itu sendiri bagi seorang yang mengaku ber-dharma Hindu? Kita perlu memahami makna Dharma yang sebenarnya, sebab inilah identitas Hindu , inilah ke-hindu-an seorang Hindu yang membuatnya unik, percaya-diri, dan bebas dari persaingan, dari rasa minder, takut, dan sebagainya.

Berasal dari suku kata Dhri, Dharma berarti sesuatu yang “menopang, mengukuhkan” – apa yang mengukuhkan air sebagai air? Sifat cair air itu sendiri. Apa yang mengukuhkan api sebagai api? Sifatnya yang dapat membakar sekaligus memberi cahaya. Setiap unsur, setiap elemen alam memiliki sifat unik yang mengukuhkan keberadaannya. Demikian pula dengan flora dan fauna, termasuk manusia.

Kehewanian hewan adalah dharma hewan; dan, kemanusiaan manusia adalah dharma manusia. Jadi, Dharma adalah sesuatu yang menjadi dasar, landasan bagi segala sesuatu di alam semesta. Ke-alami-an alam adalah Dharma.

Seorang Hindu adalah ia yang tidak hanya memahami perkara sva-dharma atau dharma masing-masing wujud kehidupan, tetapi juga bertindak, berperilaku sesuai dengan dharma-nya, yaitu sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Rigveda (10.133.6) mencatat sebuah doa, sebuah seruan yang sangat penting: “Wahai Indra, Sang Penguasa Indera, tuntunlah kami pada Rta (yang sesuai dengan dharmaku sebagai manusia), jalan yang benar melampaui segala ketidakbenaran…”

Dengan menyebut Indra atau Penguasa Indera – salah satu diantara sekian atribut, sekian sifat Hyang Maha Kuasa, Sang Hyang Widi, Paramatma, atau apapun sebutan-Nya – sloka atau ayat ini mengingatkan kita bahwa segala ketidakbenaran dan kesalahan terjadi ketika kita terbawa oleh indera, oleh hawa-nafsu.

Seorang Hindu memahami jalan yang benar sebagai jalan yang memuliakan, sebagaimana dikatakan dalam Katha Upanishad 1.2.1, dalam terjemahan bebas saya: Shreya (yang benar sesuai arahan Jiwa) dan preya (yang sekedar menyenangkan bagi indera) adalah dua hal yang beda. Keduanya mendorong manusia untuk menempuh jalan yang beda dengan tujuan yang beda pula. Ia yang menempuh jalur shreya meraih kemuliaan. Sebaliknya, ia yang mengejar preya atau kesenangan indera meraih ketersesatan.”

Sebab itu, tidaklah berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa seorang Hindu yang tidak bertindak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, belum ber-dharma Hindu, walau KTP-nya bisa saja mencantumkan Hindu di kolom agama atau kepercayaan.

Ya, agama atau kepercayaan; sebab dalam pemahaman Hindu, kata Sanskrit aagama yang barangkali menjadi sumber kata “agama” dalam bahasa kita berarti “sesuatu yang datang kepada kita secara turun temurun” – bisa tradisi-tradisi luhur secara lisan, bisa juga berupa tulisan, yang kemudian diakui sebagai agama atau kepercayaan.

Sementara itu, Dharma bukanlah sekedar sesuatu yang “datang pada kita secara turun-temurun” – sebab sesuatu yang “datang pada Anda secara turun-temurun” bisa jadi beda, atau malah bertentangan dengan apa yang “datang pada saya”. Leluhur saya lain, leluhur Anda lain. Nilai-nilai yang di junjung tinggi oleh leluhur saya bisa jadi dianggap rendah oleh leluhur Anda. Inilah yang menciptakan perbedaan antara satu kepercayaan dengan kepercayaan lain, dari satu agama dengan agama yang lain. Belum lagi ditambah dengan cara pandang, pemahaman dan persepsi kita yang berbeda-beda.

Dharma adalah nilai-nilai universal – dan dalam setiap agama atau kepercayaan pasti ada nilai-nilai yang bersifat universal, tidak semuanya kontekstual – yang tidak terpengaruh oleh desha, kala dan patra, atau keadaan suatu tempat, waktu, dan pelaku.

Patanjali mengatakan hal yang sama tentang Yoga, yang adalah bagian dari Dharma, dari nilai-nilai universal, bahwasanya nilai-nilai luhur ini tidak pernah kadaluarsa dan tidak terpengaruh oleh jaati-desha-kaala-samaya atau “kedudukan/status/kelahiran seseorang, keadaan/tempat, maupun waktu (Anand Krishna, Yoga Sutra Patanjali bagi Orang Modern, II.31). Berarti berlaku sama bagi setiap orang untuk selamanya.

Inilah keunikan Dharma, dan inilah yang dijunjung tinggi oleh Hindu, dan menjadi identitas Hindu Dharma. Sebab itu, pertanyaan “adakah kita sudah ber-dharma Hindu?” adalah sangat penting bagi kita untuk dijawab sendiri dengan sejujur-jujurnya.

Dalam tulisan berikut kita akan membahas pandangan Hindu tentang kepercayaan, tentang jenis-jenis kepercayaan, sampai jumpa… Lagi-lagi, Aum Svasti Astu, karena pertemuan kita tidak berakhir….

Credits – https://wayofdharma.com/anand-krishna/

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: