Minggu, Oktober 20"Satyam Vada, Dharmam Chara" - Taittiriya Upanishad

Hindu Dharma: Melampaui Teologi – Anand Krishna

“One point of difference between Hinduism and other religions is that in Hinduism we pass from truth to truth—
from a lower truth to a higher truth—and never from error to truth.”

Swami Vivekananda

Teologi, sebagaimana didefinisikan dalam kamus Merriam Webster, adalah “the study of religious faith, practice, and experience: the study of God and God’s relation to the world”– ilmu atau pelajaran tentang keimanan yang terkait dengan agama, dengan praktik (keagamaan), dan pengalaman (yang diraih dari praktik tersebut), ia juga adalah ilmu atau pelajaran tentang Tuhan dan hubungan Tuhan dengan dunia.

Pertanyaan tentang Mengapa Tuhan mesti Dipelajari sungguh sangat mudah dijawab, karena Ia berada di lapisan langit keberapa, atau di surga yang jauh disana – demikian dari sudut pandang teologi.

Tuhan sangat jauh, abstrak, bak bintang terjauh di langit – maka Ia mesti di-logika-kan, dijelaskan sedemikian rupa sehingga “masuk akal”, sehingga dapat dipahami.

Penjelasan ini menimbulkan berbagai macam persoalan baru, “Jika Ia memang abstrak dan mesti di-logika-kan sehingga masuk akal, maka siapa yang mesti melakukan hal itu? Siapa yang berhak melakukannya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dibangunlah, diciptakanlah institusi-institusi kepercayaan, keimanan, yang menempatkan diri sebagai pihak yang paling memiliki otoritas untuk me-logika-kan Tuhan.

Teologi, sebagaimana dikenal dalam Dunia Akademi, yang konon bersifat ilmiah, adalah suatu ilmu yang dikembangkan oleh institusi-institusi tersebut, oleh badan-badan dan individu-individu yang menganggap dirinya paling berotoritas untuk menjelaskan Tuhan dan hubungannya dengan manusia, dengan dunia.

Kemudian…. karena institusi-institusi, badan-badan, dan individu-individu yang merasa dirinya paling berotoritas terdorong oleh gugusan pikiran serta perasaan atau mind mereka masing-masing, oleh pemahaman dan persepsi mereka masing-masing – maka terciptalah berbagai cabang dan subcabang, bahkan, dalam satu jenis, satu macam, satu aliran kepercayaan dan keimanan.

Dan, setiap diantaranya melahirkan ego masing-masing, ego yang ingin menunjukkan keunggulan dan keunikannya, ego yang tidak segan-segan menyerang, bahkan membabat habis badan-badan, institusi-institusi, dan individu-individu yang dianggapnya sebagai saingan.

Teologi dengan segala Doktrin dan Dogmanya juga dikaitkan dengan Wahyu, dengan Suara Ilahi atau Logos dalam bahasa Yunani, yang pernah terdengar oleh seseorang atau sekelompok orang dari salah satu sistem kepercayaan atau keimanan.

Demikian, wahyu atau surara ilahi tersebut menjadi semacam endorsement atau stempel pengukuhan terhadap teologi dengan segala kompleksitas doktrin, dogma, kredo, bahkan ritus-ritusnya.

Ya, bukan sekedar dogma, doktrin, dan kredo – ritus-ritus tertentu pun diberi stempel pengukuhan, dan ritus-ritus lain diluar apa yang telah dikukuhkan itu dianggap sesat, menyesatkan, dan tidak sesuai.

Inilah sumber dari segala macam konflik antar dan antara agama, antar dan antara kepercayaan dan keimanan. Inilah sumber perpisahan dan perpecahan.

Teologi ingin Menyeragamkan Pemahaman dan Persepsi Manusia tentang keagamaan dan agama; sementara itu, gugusan pikiran dan perasaan atau mind manusia tidak seragam.

Tingkat kecerdasan kita berbeda. Pemahaman serta persepsi kita tentang suatu hal yang sama pun bisa beda. Sebab itu, setiap orang yang ingin menyeragamkan suatu pemahaman sudah pasti ditentang.

Para Teolog, para ahli teologi atau Ilmu Ketuhanan, yang sering menempatkan diri sebagai Ahli Surga, Ahli segala hal-ihwal tentang surga – menyadari betul hal itu. Bahwasanya mereka akan selalu ditentang oleh gugusan pikiran dan perasaan atau mind yang berseberangan; bahwasanya pemahaman yang telah mereka kembangkan bisa saja terbukti tidak cukup benar, tidak cukup logis, dan diganti oleh pemahaman lain – kekhawatiran seperti ini selalu menghantui para teolog.

Itulah sebab para Teolog akan selalu Mengejar Kekuasaan, baik di bidang ilmu, sains, maupun di ranah sosial, politik, dan sebagainya. Mereka selalu membutuhkan dukungan pihak penguasa untuk mempertahankan “kebenaran mereka”.

Bagi mereka, bagi para teolog dari aliran manapun juga, apa yang telah mereka pahami sebagai kebenaran adalah harga mati. Seluruh identitas diri mereka tergantung pada pemahaman mereka, pada apa yang telah mereka cetuskan, publikasikan, umumkan, promosikan.

Maka, mereka mati-matian mempertahankan pemahaman mereka masing-masing. Hasilnya sudah di depan mata, jelas bagi mereka yang memiliki sepasang mata untuk melihat. Dialog antar dan antara kepercayaan pun hanya berhasil ketika teologi, dogma, doktrin, kredo, dan ritus masing-masing tidak diagendakan, tidak didialogkan.

Dialog-dialog semacam itu bersifat luaran saja, superficial, sehingga hasilnya nihil. Tidak jarang pula para pedialog yang baru saja bermesra-mesraan dalam ruang sidang, sudah mulai perang mulut saat makan siang antar-sesi.

Hindu Dharma tidak bisa Direduksi Menjadi Teologi. Dharma dari perspektif Hindu tidaklah sama dengan religion atau belief system yang sepenuhnya bergantung pada dogma, doktrin, kredo, kitab suci tertentu, atau wahyu yang pernah diterima oleh individu-individu tertentu.

Dharma, awalnya disebut Rta dalam Veda, adalah “that which ensures the welfare of living beings is surely Dharma. The learned rishis have declared that that which sustains is Dharma” – sesuatu yang memastikan kesejahteraan, kebahagiaan, kebaikan semua makhluk hidup itulah Dharma. Para resi menyatakan Dharma sebagai sesuatu yang menopang, mengukuhkan, mempersatukan — demikian menurut Bhishma dalam Epos Mahabharata (Shanti Parva 109-9-11).

Sebaliknya, segala sesuatu yang tidak demikian, yang tidak mempersatukan, tidak mengukuhkan, tidak menopang, tidak sustainable adalah kebalikannya, atau adharma.

Sebab itu, jelas sudah bahwa Teologi tidaklah sama dengan Dharma. Teologi adalah bahan bagi gugusan pikiran dan perasaan atau mind, sementara itu dharma adalah sesuatu yang mesti dilakoni, tidak cukup dipikirkan.

Dharma bukanlah suatu ilmu yang sekali waktu bisa dibantah, bisa dinyatakan tidak relevan lagi, dan ditinggalkan, sebagaimana sekian banyak ilmu dan penemuan ilmiah yang sudah dianggap kadaluarsa dan tidak relevan lagi.

Dharma adalah laku demi kebaikan, bukan saja terhadap dan bagi sesama umat manusia, tetapi sesama makhluk hidup.

Dharma bersifat universal dan sanatana – sesuatu yang tidak terputuskan, yang ada sejak dulu dan akan selalu ada – ia adalah suatu kontinuitas, sebagaimana cahaya matahari atau rembulan adanya. Sebagaimana panas api, kelembapan air, dan kelembutan angin adanya. Mereka sejak dulu demikian, dan boleh diasumsi akan selalu demikian…

Adapun Istilah Hindu yang terkait dengan kata Dharma adalah suatu pengakuan atas asal-usul para resi, para bijak dari lembah Sindhu, mereka yang pertama kali menyadari peran rta atau dharma sebagai sesuatu yang mempersatukan segala sesuatu, jauh sebelum para saintis modern mulai berandai-andai tentang theory of everything.

Istilah Hindu adalah distorsi dari kata Sanskrit “Sindhu” yang merujuk pada suatu peradaban, Peradaban Lembah Sindhu atau Indus Valley Civilization, yang dalam travelog-travelog Cina disebut Shintuh.

Peradaban Sindhu, yang baru-baru ini dinyatakan sebagai peradaban tertua – lebih tua dari Mesir dan Mesopotamia (http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-3621622/Indus-Valley-civilisation-pre-date-Egypt-s-pharoahs-Ancient-society-2-500-years-older-thought.html) – adalah induk dari berbagai macam kepercayaan, budaya, dan adat-istiadat unggulan dari Iran hingga sebagian dari kepulauan Filipina.

Kepulauan Nusantara berada dalam wilayah peradaban yang sama. Sehingga, teori-teori lama seperti Invasi Kaum Arya di anakbenua India dan sebagainya tergugurkan sudah. Termasuk juga teori tentang Hindu sebagai kepercayaan impor sebagaimana kepercayaan-kepercayaan lainnya di Kepulauan Nusantara.

Hindu Dharma Mengakui Keberagaman, sekaligus berfokus pada Kesatuan dibalik segala perbedaan yang tampak pada permukaan.

Hindu Dharma bisa menerima para Astika atau mereka yang percaya pada otoritas Veda, maupun para Nastika seperti Buddha dan Mahavira yang menempatkan kesadaran diri diatas otoritas kitab suci. Sebab, Hindu sadar betul bila tujuan Veda pun sama, yaitu menyadari jatidiri, meraih kesadaran tentang kesejatian diri.

Apa yang di Nusantara saat ini disebut sebagai agama-agama lokal, atau kearifan lokal adalah bagian dari Peradaban Hindu, Sindhu, Shintuh, Indus, Indies.

Sesungguhnya istilah Indigenous bagi “Pribumi” berasal dari kata Indus pula, dari Sindhu, Hindu, Shintuh.

Hindu Dharma Tidak pula Mengenal Titik. Ia mengalir terus…. Sebagaimana dijelaskan oleh Sang Pembaharu Zaman Baru, Swami Vivekananda, yang pemikirannya banyak mempengaruhi founding fathers Republik Indonesia, diantaranya Bung Karno,  seorang Hindu berada dalam perjalanan dari kebenaran bernilai rendah menuju kebenaran bernilai lebih tinggi.

Dan, perjalanan ini adalah perjalanan sanatana, tidak pernah berhenti, tidak pernah berakhir. Kehidupan, sebagaimana alam semesta adanya, dan demikian pula Hindu – adalah anadi dan ananta – tidak berawal dan tidak pernah berakhir.

Hindu adalah Perjalanan Batin Individu, perjalanan spiritual yang bersifat sangat pribadi. Ketika seorang Hindu berdoa, ia tidak berdoa pada Tuhan di langit teratas atau di surga, tetapi pada Ia Hyang Bersemayam di dalam dirinya, sekaligus meliputi seantero alam. Seorang Hindu berdoa untuk meraih darshan, insight, kesadaran diri tentang jatidarinya.

Apa yang disebut Brahma Vidya dan seringkali diterjemahkan sebagai Teologi Hindu sama sekali bukan teologi, bukan upaya untuk melogikakan Tuhan. Ia adalah Pengetauhan sejati berdasarkan pengalaman pribadi tentang Jati-Diri.

Bhagavad Gita menjelaskan bahwa sesungguhnya Brahma atau Paramatma atau apapun sebutan bagi-Nya tidaklah pernah terpisahkan dari Atma. Sebagaimana cahaya dan sinar matahari tidak pernah terpisahkan dari matahari. Perpisahan hanyalah terjadi dalam kata, ada matahari, ada cahaya matahari dan ada sinar matahari.

Saatnya, Hindu bangkit dengan dan atas kemampuannya sendiri, dengan penuh percaya diri, tanpa tongkat teologi. Sebab, tiada penopang, tiada pelindung sehebat dan sedahsyat Dharma, dan “mereka yang melestarikan Dharma dilindungi oleh Dharma itu sendiri” – semoga…..

“Dharmo Rakshati Rakshitah” 

Manu Smriti 8:15

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: