Senin, Agustus 26"Satyam Vada, Dharmam Chara" - Taittiriya Upanishad

BERSAMA WALAU BERBEDA – Kekuatan Hindu untuk Meraih Keberhasilan-Anand Krishna

Om
|| Sahanaa Vavatu, Sahanau Bhunaktu, Sahaviryam karavaavahai
Tejasvinaavadhi-tamastu, Maa vidvisha vahai ||
Om Shaanti, Shaanti, Shaantih

Berasal dari peradaban kita, dari Peradaban Sindhu, Shintuh, Hindu, Indus, Indies, Hindia – saya belum menemukan sebuah afirmasi seperti ini dalam tradisi lain. Artinya adalah,

“Mari kita belajar bersama, mari kita saling mengisi, dan berkarya bersama dengan penuh semangat… Semoga tidak terjadi kesalahpahaman antara kita.”

Luar Biasa! Afirmasi seperti ini hanyalah terucap oleh para pemberani, oleh mereka yang tidak terjebak dalam persaingan, tidak merasa perlu bersaing, sebab yakin akan keunikan dirinya. Sebab itu, mari belajar bersama, mari saling mengisi – tidak ada urusan saya mesti mengungguli Anda, tidak ada kompetisi. Afirmasi ini adalah tentang kebersamaan.

Setiap orang bicara tentang kebersamaan. Tapi, ujung-ujungnya kompetisi lagi, masing-masing ingin berada di baris terdepan. Kalau perlu sikut-menyikut ya sikut-menyikut, asal kita bisa keluar sebagai juara, sebagai pemenang.

Lain halnya dengan Peradaban Hindu, dimana kebersamaan diartikan sebagai kebersamaan. Tidak berarti tiada yang lebih tinggi dan tiada yang lebih rendah. Tidak berarti kita menafikan perbedaan. Tidak, tidak demikian. Kita mengakui adanya tingkatan, adanya tinggi-rendah, adanya perbedaan. Inspite of that, kendati demikian kita masih bisa duduk bersama, belajar dan berkarya bersama – inilah Semangat Hindu.

Di satu pihak kita meyakini dictum Vedanta, Intisari Ajaran Veda, “Tat Tvam Asi”That Thou Art – Itulah Engkau – dan Tat, That atau “Itu” dalam hal ini bukanlah Itu sembarang. Tat, “Itu” adalah Esensi dari Kebenaran. Bukan sekedar Kebenaran, tetapi Esensi dari Kebenaran – Om Tat Sat – Om Itulah Esensi Kebenaran.

Om adalah Pranava – Sabda Prana, Sabda Aliran Kehidupan – The Sound of Life Force… Para saintis modern baru menemukan apa yang sudah ditemukan para saintis masa silam yang dalam tradisi kita disebut Resi – mereka yang tidak hanya menemukan, tetapi telah melihat Kebenaran… Ya, mereka menemukannya ribuan tahun yang lalu, bahwa Om adalah Sabda Semesta, The Sound of Existence. Ketika getaran-getaran semesta dikompres sedemikian rupa, sehingga menjad laudible, bisa terdengar – maka suara yang terdengar itulah Om.

Dalam Om Itu, dalam Esensi Kebenaran Itu – kita semua satu. Namun, ungkapan dari Om berbeda-beda, dan perbedaan itu pun kita terima.

Kita menerima logam mulia sebagai logam mulia, esensi logam mulia di mana pun satu dan sama, sebab itu bisa dibuatkan standarnya, dan standar itu berlaku sama di seluruh dunia. Tidak ada standar ganda.

Namun, ungkapan dari logam mulia sebagai perhiasan bisa berbeda-beda. Kalung yang terbuat dari logam mulia yang sama beda bentuk dan beda beratnya dari liontin. Begitu pula gelang yang terbuat dari emas beda rupa dari giwang yang terbuat dari emas yang sama.

Kita mesti menghargai setiap jenis perhiasan sesuai dengan jenisnya. Kita mesti menyebut setiap jenis sesuai dengan sebutan bagi jenisnya. Pada saat yang sama, kita juga meapresiasi emas sebagai emas.

Banyak yang tidak memahami hal ini…. Sebab itu, ketika bicara tentang varna, atau apa yang umumnya disebut kasta, kita sering menjadi apologetic. Kita menjadi minder, seolah perkara kasta itu adalah sebuah aib.

Varna ibarat jenis perhiasan. Kalung adalah kalung, giwang adalah giwang, gelang adalah gelang. Apa salahnya?

Varna adalah penggolongan anggota masyarakat sesuai dengan profesinya. Bukan karena kelahirannya. Sebab itu, Vyasa yang lahir dari rahim Satyavati, putri seorang nelayan, kita muliakan sebagai Jagad Guru Pertama. Beliaulah yang mengumpulkan Pengetahuan Mulia Veda; Beliaulah yang menulis Mahabharata dan Purana. Karya Beliau menempatkan Beliau diatas para guru spiritual yang pernah dan yang akan ada.

Esensi Vyasa adalah sama dengan esensi setiap orang diantara kita. Namun, karya Beliau menempatkan Beliau di posisi yang jauh diatas kita.

Sebagaimana tertulis dalam Sara Samuccaya, setiap guru di setiap masa mengacu pada Beliau, pada apa yang sudah Beliau tuliskan ribuan tahun yang lalu. Kita melihat dan menghormati para guru sebagai percikan dari Sang Maha Guru, dari Jagad Guru Vyasa.

Sebaliknya, seorang Guru, Guru Sejati, Satguru, tidak memiliki ego, dan tetap memulai setiap pelajaran yang hendak diberikannya dengan afirmasi diatas: Mari kita belajar bersama, saling mengisi, berkarya bersama, semoga tidak terjadi kesalahpahaman diantar kita…

Seorang siswa menghormati “Jenis” dan “Berat” Perhiasan yang diwakili oleh Gurunya. Sementara itu, seorang Guru, seorang Satguru, seorang Guru Sejati yang tidak termakan oleh egonya sendiri, menghormati Esensi Logam Mulia yang adalah kebenaran dia dan kebenaran para muridnya.

Demikian, terjadilah pertemuan antara seorang Guru dan para muridnya… ada perbedaan, namun perbedaan itu tidak pernah menjadi kendala bagi kebersamaan.

Kita tidak akan pernah bisa menghapuskan perbedaan. Menghapuskan perbedaan berarti memaksakan keseragaman, dan pemaksaan seperti itu tidak pernah bisa bertahan lama. Pelajari sejarah mereka yang berkehendak demikian – adakah mereka berhasil? Tidak. Pemaksaan seperti itu hanyalah bertahan selama sang pemaksa mampu menciptakan rasa takut dalam hati mereka yang dipaksanya. Namun, rasa takut semu seperti itu tidak pernah bertahan lama, malah berakhir dengan revolusi dan pertumpahan darah.

Hindu tidak percaya pada pemaksaan dan penyeragaman semu seperti itu. Hindu juga tidak hanya mengagung-agungkan perbedaan. Hindu melihat kebenaran yang tunggal dibalik segala perbedaan di permukaan.

Kembali pada awal pembahasan kita…. Jika kita sadar akan keunikan kita, maka kita tidak perlu berlomba-lomba dan menyia-nyiakan energi untuk bersaing.

Selama ini kita diarahkan untuk bisa kompetitif, untuk bisa bersaing… Kenapa? Karena tidak ada keunikan di dalam diri kita. Para sarjana belum menjadi srajanhar, belum memiliki karakter Brahma yang amat sangat kreatif, sehingga diantara dedaunan dari satu pohon pun tidak ada dua helai yang sama.

Ya, istilah sarjana berasal dari srajanhar, sang pencipta yang kreatif, yang mencipta, bukan menyontek. Kita menggunakan istilah tersebut sebagai gelar, tapi belum tentu juga pernah memahami maknanya.

Para lulusan dari perguruan tinggi – dan, ini adalah fenomena umum, bukan di negeri kita saja – umumnya tidak jauh beda dari hasil cetakan mesin dengan spesifikasi yang sama. Keunikan mesin memang itu, menciptakan produk dengan spesifikasi yang sama. Mesin tidak boleh mengenal perbedaan. Mesinisasi dan mekanisasi adalah istilah-istilah lain bagi penyeragaman.

Sebab itu, berkat serapah penyeragaman tersebut, mau tidak mau para namesake sarjana yang belum menjadi srajanhar mesti mati-matian bersaing. Kompetisi telah menjadi mantra umum. Istilah-istilah seperti “mampu bersaing” dianggap kren!

Kemampuan untuk bersaing hanyalah memberi keberhasilan sesaat, sukses semu. Jika saat ini kita mampu bersaing dan mengalahkan orang lain, maka saat berikutnya orang lain bisa mengalahkan kita. Keberhasilan seperti itu tidak memiliki arti.

Setiap orang yang cukup percaya diri tidak perlu percaya pada keberhasilan sesaat seperti itu, sukses semu seperti itu, apalagi seorang Hindu!

Ya, saya katakan, apalagi seorang Hindu, sebab jika ia percaya pada ke-Hindu-annya, maka ia tidak bisa tidak percaya diri. Kita akan melanjutkan pembahasan ini bulan depan, sampai jumpa. Saya mengakhiri bukan dengan Om Shanti, tetapi dengan Aum Svasti Astu, karena pertemuan kita belum berakhir, dan dalam ke-Hindu-an yang mulia tidak akan pernah berakhir. Pertemuan kita sudah pasti bersifat sama seperti Hindu itu sendiri, sanatana, langgeng, abadi…. Sekali lagi, Aum Svasti Astu.

*Penulis, Pendiri Anand Ashram (www.anandashram.or.id) dan penulis lebih dari 170 buku

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: