Apakah Arti Hinduisme?

Sebuah ensiklopedia artikel harusnya mempunyai sebuah definisi pada mulanya, tetapi persyaratan ini menghadirkan kesulitan-kesulitan yang unik di dalam persoalan agama Hindu. Kesulitan ini timbul dari pandangan duniawi yang universal dari agama Hindu dan kesediaannya menerima serta merayakan filsafat beragam, ketuhanan, simbol, dan amalan. Suatu agama yang mengutamakan kesamaan dan berbagi karakteristik daripada perbedaan memiliki kendala dalam membedakan dirinya – kecuali jika kualitas ini dianggap sebagai ciri yang mendefinisikan.

Hal ini tidaklah mengatakan bahwa tidak ada kepercayaan dan amalan yang mungkin diidentifikasikan sebagai ajaran Hindu, namun bahwa tradisi agama Hindu sebagian besar menaruh perhatian atas situasi manusia daripada situasi agama Hindu itu sendiri. Alih-alih mendasarkan identitasnya pada pemisahan umat Hindu dengan bukan umat Hindu atau penganut dengan bukan penganut, agama Hindu telah mencari untuk mengenal prinsip dan amalan yang mampu memimpin individu manapun menjadi manusia yang lebih baik dan juga memahami serta  hidup harmonis dengan dharma (kebenaran).

Pembedaan dharma dari pemahaman agama dari Barat adalah mutlak untuk memahami identitas agama Hindu. Sampai-sampai agama Hindu disertai dengan pengertian Barat atas kata agama mendistorsi kenyataan dari India. Di Barat suatu agama dipahami sebagai konklusif – yakni, bahwa ia adalah satu-satunya agama yang benar. Kedua, suatu agama adalah ekslusif – yaitu, mereka yang tidak mengikutinya tidak akan diselamatkan. Akhirnya, suatu agama ialah separatis – berarti, untuk termasuk di dalamnya, seseorang tidak bisa termasuk di dalam agama lain. Dharma, akan tetapi, tidak selalu mengartikan semua hal ini. Kita telah sampai pada titik ini, maka artikel ini akan tunduk pada konvensi dan menggunakan istilah Hinduisme.

 

A – Tradisi Dharma

Dharma adalah konsep yang sangat penting bagi para umat Hindu. Sebagai tambahan bagi tatanan tradisi dan moral, ia juga menandakan jalur pengetahuan dan perbuatan yang benar. Karena penekanan agama Hindu atas cara hidup yang sesuai dengan dharma, siapapun yang berjuang untuk pengetahuan spiritual dan mencari arah tepat dari tindakan etis adalah, pada pemahaman yang lebih luas, seorang pengikut sanātana dharma.

Buddhisme, Jainisme, dan Sikhisme, berbagi konsep dharma dengan Hinduisme berikut dengan konsep utama lainnya, dan keempat agama kemungkinan termasuk di dalam tradisi dharma. Pada satu level Hinduisme bisa merujuk kepada kepercayaan atau amalan dari para pengikut tradisi dharma manapun. Kata Hinduisme mempertahankan pengertian ini pada beberapa penggunaannya di dalam Konstitusi India 1950. Di dalam bidang pembelajaran agama, bagaimanapun jua, Hinduisme digunakan di dalam pemahaman lebih sempit supaya membedakannya dari agama lain yang bersumber dari India.

Maka seorang umat Hindu diidentifikasikan oleh pengecualian ganda. Seorang umat Hindu adalah seseorang yang tidak mengikuti sebuah agama yang bukan berasal dari India – Buddhisme, Jainisme, atau Sihkisme. Upaya ini pada definisinya menghasilkan perbedaan agak artifisial antara Hinduisme dan tradisi-tradisi dharma lainnya, berasal dari sebuah percobaan yang membatasi sebuah sistem yang melihat dirinya sendiri sebagai semesta kepada sebuah identitas yang beragama dengan ketat. Dengan cara lain, memberi nama kepada tradisi dharma lain sebagai non-Hindu mempunyai dasar yang lebih bersumber pada alasan politis daripada filsafat. Tentunya, perbedaan lebih besar dari keyakinan dan amalan terletak di dalam keluarga besar yang dinamai sebagai Hinduisme daripada membedakan Hinduisme dari sistem-sistem dharma lainnya.

Sejarawan India Irfan Habib menyatakan poin ini ketika dia mengutip sebuah sumber dari Persia awal bahwa para umat Hindu adalah mereka yang telah berdebat di antara sesamanya di dalam kerangka umum selama berabad-abad. Jika mereka mengenali orang lain yang bisa mereka dukung atau tentang dengan pengertian, maka keduanya adalah umat Hindu. Meskipun fakta bahwa umat Jain menolak kebanyakan kepercayaan Hindu, para umat Jain dan Hindu tetap mampu berdebat dan sehingga para umat Jain adalah umat Hindu. Namun wacana tersebut tidak terdapat di antara umat Hindu dengan umat Muslim karena mereka tidak memiliki kesamaan prinsip dasar.

B –  Sanātana Dharma

Bukti dari prasasti-prasasti menunjukkan bahwa para umat Hindu telah memulai penggunaan kata dharma untuk agama mereka pada abad ketujuh. Setelah agama lain berhulu dari India juga mulai menggunakan istilah ini, umat Hindu kemudian mengadopsi ekspresi sanātana dharma untuk membedakan dharma mereka dengan yang lain.  Kata sanātana, berarti melebihi batas ingatan juga kekal, menekankan pada kelangsungan tak terputus dari tradisi Hindu yang berlainan dengan dharma-dharma lainnya. Dharma dari umat Buddha, Jain, dan Sikh mempunyai titik mulai yang nyata, sedangkan Hinduisme tidak memiliki sejarah pendirian.

Tradisi Hindu mungkin bisa dikatakan dimulai pada abad keempat SM ketika pertumbuhan dan pemisahan Buddhisme dan Jainisme menyediakannya dengan pengertian khas atas identitas sanātana dharma. Beberapa orang terpelajar memilih untuk menandai permulaannya sekitar 1500 SM, periode dimana naskah suci paling awal berasal, walaupun bukti terbaru menunjukkan naskah-naskah tersebut mungkin lebih tua. Beberapa kepercayaan dan amalan tertentu yang bisa diidentifikasikan dengan jelas sebagai agama Hindu – seperti pemujaan terhadap pepohonan suci dan ibu dewi – kembali ke budaya yang dikenal sebagai Harappan, yang mana berkembang sekitar 3000 SM. Amalan-amalan agama Hindu lainnya bahkan lebih tua. Contohnya, keyakinan dalam makna keagamaan dari bulan baru dan purnama dapat dilacak jauh ke periode proto-Australoid, sebelum 3000 SM. Dengan alasan yang baik bahwa penganut Hindu memandang dirinya sebagai sanātana dharma atau tradisi kumulatif. Asal-usulnya terselubung di tengah-tengah zaman purbakala, dan ia terus berlangsung tanpa jeda.

C – Sebuah Tradisi yang Komprehensif dan Semesta

Tradisi ajaran Hindu bertujuan pada kelengkapan keagamaan sejauh keyakinan dan amalan yang bersangkutan. Pertama, ia bermaksud untuk membuat kekayaan agama Hindu tersedia bagi umatnya dan pencari sejati akan kebenaran dan pengetahuan lainnya. Namun ia tidak membatasi umatnya dari tradisi mereka. Sebagai gantinya, ia menganjurkan umatnya untuk menjelajahi semua jalan yang bisa memimpin ke realisasi ilahi, dan ia menyediakan sebuah sistem dengan banyak jalur untuk realisasinya.

Kedua, di dalam tata cara ilmiah, Hinduisme terus bereksperimen dan berasimilasi dengan ide-ide baru. Juga seperti ilmu pengetahuan, ia jauh lebih tidak peduli dengan asal muasal atau sejarah buah pikiran daripada kebenarannya yang didemonstrasikan melalui pengalaman langsung. Keterbukaan Hinduisme atas ide-ide baru, para guru, dan keinginannya akan kesemestaan daripada keekslusifan, memisahkannya dari agama-agama yang membedakan pengikut mereka dengan keyakinannya pada khususnya peristiwa sejarah, orang, atau wahyu.

Dua kejadian di dalam hidup Mahatma Gandhi mencontohkan aspek tradisi Hindu. Pertama-tama, Gandhi memberi judul otobiografinya Kisah Percobaan Saya dengan Kebenaran (1929). Dengan melakukan hal itu, dia melaksanakan amalan Hindu yang bersedia bereksperimen terus-menerus sebagai cara menemukan kebenaran dan mencatat hasil esperimen tersebut. Walaupun Gandhi mencari kebenaran spiritual, dia mendekatinya dengan semangat ilmiah. Kedua, ketika ditanya, ʺApakah agamamu?ʺ di tahun 1936, Gandhi menjawab, ʺAgama saya adalah Hinduisme, yang bagi saya adalah Agama bagi para manusia dan mencakup semua yang terbaik dari seluruh agama yang saya kenal.ʺ Tokoh suci seperti Gandhi telah secara berkala memperbaharui agama Hindu sepanjang sejarah dan terus mengikuti zaman. Karena Hinduisme tidak memiliki orthodoksi yang memusat, dan tidak mempunyai kepercayaan yang membutuhkannya, pembaharuan atas tradisinya telah datang dari berbagai orang bijak dengan segala umur yang mendasarkan pengetahuan mereka dari pengalaman ilahi.

Translated from the original article by Sankrant Sanu: https://yoganearme.wordpress.com/2016/08/13/what-is-hinduism/

Leave a Reply